Jumat, 09 Maret 2012

PEREMPUAN ACEH itu...........


Sesetia CUT NYAK DHIEN pada TEUKU UMAR, menunggangi kuda perang dan menemani perjuangan suaminya, meneruskan perjuangan itu ketika suaminya syahid bahkan dalam kondisi buta sekalipun. Iaa tidak pernah tunduk pada kekafiran belanda, meskipun ia dicampakkan dari Aceh dan wafat di tanah sunda.
Seterhormat SRI RATU SAFIATUDDIN, dalam memimpin kesultanannya, seusai wafat suaminya dan menuggu putra mahkota beranjak dewasa.
Seperkasa MALAHAYATI, dalam menaklukkan inggris di malaka dan Singapore, ia memimpin armada laut perang
Seteguh kesabaran TENGKU FAKINAH, yang mendidik kaumnya dari rumah ke rumah, meskipun jihad berkecamuk dalam simbah darah mujahid
Setegar PERMAISURI SULTAN ISKANDAR MUDA, yang merajam mati putranya karena terbukti berzina dan memakamkannya di pemakaman kerkhof, diluar istana kerajaan.
Sekuat lascar INONG BALEE, yang turut memikul senjata, membalas kematian suami dan ayahnya yang gugur di medan peperangan dan menyanyikan didoidi, nyanyian jihad kepada putra-putrinya sejak di ayunan.
Seharmoni TARIAN SAMAN, duduk dalam satu shaf barisan dalam satu komando. Ia menjaga marwahnya sebagai perempuan islam, tidak harus gemulai atau melenggak lenggok kan tubuhnya kesana kemari
Secitarasa Masakannya: Sunti, keumamah, Eungkot masen, Pliek u, Asam drien, Beulacan, Rempah-rempah kering, Mulieng, ngon kupie. Yang awet dalam bilangan tahun agar ia bias bertahan bersama keluarganya dalam keadaan apapun.
Jadi, wajar-wajar saja jika Perempuan ACEH tidak dapat dilamar hanya dengan seperangkat alat shalat, perlu puluhan mayam emas untuk dapat meminangnya.