Sesetia CUT NYAK
DHIEN pada TEUKU UMAR, menunggangi kuda perang dan menemani perjuangan
suaminya, meneruskan perjuangan itu ketika suaminya syahid bahkan dalam kondisi
buta sekalipun. Iaa tidak pernah tunduk pada kekafiran belanda, meskipun ia
dicampakkan dari Aceh dan wafat di tanah sunda.
Seterhormat SRI
RATU SAFIATUDDIN, dalam memimpin kesultanannya, seusai wafat suaminya dan
menuggu putra mahkota beranjak dewasa.
Seperkasa
MALAHAYATI, dalam menaklukkan inggris di malaka dan Singapore, ia memimpin
armada laut perang
Seteguh kesabaran
TENGKU FAKINAH, yang mendidik kaumnya dari rumah ke rumah, meskipun jihad
berkecamuk dalam simbah darah mujahid
Setegar
PERMAISURI SULTAN ISKANDAR MUDA, yang merajam mati putranya karena terbukti
berzina dan memakamkannya di pemakaman kerkhof, diluar istana kerajaan.
Sekuat lascar INONG
BALEE, yang turut memikul senjata, membalas kematian suami dan ayahnya yang
gugur di medan peperangan dan menyanyikan didoidi, nyanyian jihad kepada
putra-putrinya sejak di ayunan.
Seharmoni TARIAN
SAMAN, duduk dalam satu shaf barisan dalam satu komando. Ia menjaga marwahnya
sebagai perempuan islam, tidak harus gemulai atau melenggak lenggok kan
tubuhnya kesana kemari
Secitarasa
Masakannya: Sunti, keumamah, Eungkot masen, Pliek u, Asam drien, Beulacan,
Rempah-rempah kering, Mulieng, ngon kupie. Yang awet dalam bilangan tahun agar
ia bias bertahan bersama keluarganya dalam keadaan apapun.
Jadi,
wajar-wajar saja jika Perempuan ACEH tidak dapat dilamar hanya dengan
seperangkat alat shalat, perlu puluhan mayam emas untuk dapat meminangnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar